Share article
Print article
Pelaksanaan kurikulum di Indonesia sering terjebak pada formalitas dan pendekatan 'top-down'.
Di Thailand, pelatihan yang berfokus pada potensi dan inklusif menciptakan manfaat sosial-ekonomi berkelanjutan.
Ini bukti bahwa kultur akademis yang terbuka, inklusif, dan menjunjung integritas ilmiah menjadi kunci kemajuan riset.
Program kampus berdampak di Indonesia hadir dengan visi besar: menjadikan pendidikan tinggi sebagai motor perubahan sosial. Harapannya, kurikulum tidak sekadar menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga mencetak insan yang mampu memenuhi kebutuhan riil masyarakat.
Namun, dalam pelaksanaannya, kurikulum di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Pendekatan yang cenderung top-down kurang dapat menyesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.
Read more: Hadapi gonta-ganti kurikulum, guru perlu bekal resiliensi sejak awal
Penelitian tahun 2022 menunjukkan bahwa masalah pendidikan di Indonesia mencakup ketimpangan luaran pendidikan, rendahnya kualitas fasilitas dan infrastruktur, kompetensi serta perilaku pendidik yang belum memadai, hingga lemahnya perilaku moral peserta didik dan meningkatnya intoleransi rasial.
Kondisi ini menjadi renungan penulis yang sedang menempuh program doktoral dengan fokus riset seputar sains halal (halal science) di Thailand.
Berbeda dengan Indonesia, Thailand menerapkan pendekatan yang terbuka dan inklusif, dengan fokus pada pengembangan potensi sekaligus memberikan ruang bagi keberagaman, termasuk bagi kelompok minoritas.
Meskipun tidak secara eksplisit mengusung istilah 'berdampak', komitmen kampus-kampus di Thailand dalam menggali potensi masyarakat-baik lokal maupun internasional-terlihat jelas melalui program-program yang berdampak nyata bagi kehidupan sosial dan ekonomi.
Seorang kawan yang juga pengusaha kedai, kafe, dan hostel halal di Bangkok menuturkan bahwa pemerintah Thailand menyediakan program pelatihan kuliner bagi 20 talents muslim dari lima provinsi yang berbeda. Program ini berlangsung selama sebulan.
Pemerintah menanggung seluruh biaya pelatihan untuk memberdayakan masyarakat minoritas melalui pengembangan keterampilan profesional.
Pelatihan ini tidak hanya fokus pada pengajaran teknik memasak, tetapi juga menyediakan akses luas ke jejaring profesional yang penting. Pelatihan pun membuka peluang pasar baru, serta membangun kepercayaan diri peserta dalam berbisnis kuliner.
Peserta mendapatkan manfaat signifikan berupa peningkatan kualitas produk dan standar pelayanan, serta akses ke koneksi bisnis yang memperluas pangsa pasar.
Dampak dari program ini tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga meluas ke masyarakat sekitar, memberikan inspirasi dan peluang ekonomi yang lebih baik.
"Pelatihan chef ini diberikan gratis oleh pemerintah Thailand. Kami diminta mengisi formulir kemudian diseleksi. Hal ini sangat membantu meningkatkan skill kami sebagai chef profesional karena ditempa selama hampir 30 hari. Jumat dan Ahad yang cuti (libur)," tutur Anisa, pemilik Rotinis Halal Cafe and Hostel Bangkok.
Inisiatif ini membuktikan bahwa kurikulum yang dirancang dengan komitmen serius dan dukungan penuh pemerintah dapat menciptakan transformasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, pendekatan pemerintah Thailand melampaui formalitas administratif. Pelatihan menyesuaikan karakter budaya dan ekonomi masing-masing daerah. Pemerintah pun mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara berkelanjutan melalui pelatihan keterampilan, pendampingan bisnis, dan akses ke pasar.
Dalam konteks ini, pendidikan menjadi proses yang dinamis dan terintegrasi dengan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Model semacam ini menjadi contoh bagaimana fokus pada potensi individu dan komunitas dapat mendorong inklusi sosial yang lebih luas dan berkelanjutan.
Penelitian penulis tentang halal science di Bangkok memberikan wawasan langsung tentang kultur akademis yang tidak hanya menerima keberagaman, tapi juga aktif mendukungnya-meskipun Thailand bukan negara mayoritas Muslim.
Pengalaman mendapatkan beasiswa doktoral ASEAN/non-ASEAN dari Chulalongkorn University memperkuat keyakinan penulis bahwa lingkungan ini menghargai kualitas dan integritas ilmiah.
Para peneliti dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas minoritas, diterima secara setara, dengan staf akademis dan teknisi laboratorium yang sangat menghargai penelitian berlandaskan prinsip etika dan kehalalan tanpa memandang perbedaan agama atau budaya.
Atmosfer terbuka ini mendorong kolaborasi lintas disiplin dan budaya yang memperkaya kualitas riset. Ini membuktikan bahwa riset yang berakar pada nilai etika dan budaya dapat tumbuh dan berkembang di masyarakat pluralistik.
Lebih dari sekadar toleransi, lingkungan ini menumbuhkan rasa saling menghormati dan kepercayaan. Alhasil, berbagai ide dan inovasi dapat lahir dan diaplikasikan secara nyata.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi pengembangan riset di Indonesia, yakni bahwa keterbukaan, inklusivitas, dan integritas ilmiah adalah kunci untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan.
Lingkungan akademis yang terbuka bukan hanya menciptakan ruang bagi keberagaman, tetapi juga menjadi sumber kekuatan untuk mendorong inovasi dan kolaborasi yang berdampak luas.
Untuk mewujudkan lingkungan akademis yang berdampak dan inklusif, Indonesia dapat menempuh langkah konkret baik di bidang riset maupun pendidikan.
Dalam konteks riset halal, program Pendampingan Sertifikasi Halal oleh BPJPH dan LPPOM MUI dapat diperkuat untuk meningkatkan daya saing produk di pasar nasional dan ekspor.
Lembaga seperti BRIN dan Halal Research Center juga dapat mendorong inovasi dalam autentikasi halal guna mendukung scientific proofing, yang bersinergi dengan regulasi, serta penggunaan AI dalam blockchain barcode.
Pembinaan berujung pada inkubasi bisnis yang dapat ditawarkan secara langsung kepada investor ataupun pameran produk rakyat juga menjadi gerakan nyata.
Di sisi lain, penguatan kurikulum berdampak dapat diwujudkan melalui penyediaan laboratorium yang memadai, integrasi rencana industri dengan pendidikan, serta penyelenggaraan program pelatihan yang selaras dengan kebutuhan lokal.
Pemberian penghargaan juga dapat menjadi salah satu cara untuk memotivasi para talents Indonesia.
Selain itu, kurikulum dapat mengangkat nilai-nilai lokal guna memperkuat local pride sebagai ciri khas Indonesia.
Upaya ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas lulusan, tetapi juga menjadikan pendidikan tinggi sebagai pendorong transformasi sosial yang berkelanjutan.
Pelajaran dari Thailand menunjukkan bahwa investasi nyata dalam pelatihan dan dukungan bagi komunitas minoritas dapat mewujudkan kesetaraan sosial sekaligus kemajuan ekonomi.
Model ini menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam membangun kurikulum berdampak serta mengembangkan sumber daya manusia yang inklusif.
Menerapkan "kurikulum berdampak dan inklusif" berarti menghadirkan pendidikan yang benar-benar memberdayakan, mendorong kolaborasi lintas disiplin, dan menjunjung tinggi etika.
Sudah saatnya Indonesia melangkah dari wacana menuju aksi nyata untuk membangun sistem pendidikan yang terbuka, inovatif, dan berorientasi pada pengembangan potensi.














